Sunday, March 29, 2015

Cara Install Mozilla Firefox Lengkap

Tutorial Install Mozilla Firefox di Windows

Memasang Firefox di Windows.

  1. Kunjungi laman unduhan Firefox dengan peramban (browser) apa saja (contoh: Microsoft Internet Explorer). Halaman akan secara otomatis merekomendasikan versi terbaik untuk Anda.

    FireFox Download Page - Windows
  2. Klik pada tautan unduhan berwarna hijau untuk mengunduh program penginstal Firefox. Tergantung kecepatan koneksi Anda, proses pengunduhan mungkin akan memakan beberapa menit. Terima kasih untuk kesabarannya... Itu akan sepadan dengan penantian Anda!
  3. Mulai prosesnya dengan memilih Run.

    9adf3cab7ac5be01d856c9d1020aa0da-1263064820-505-2.jpg
  4. Lalu, ikuti saja petunjuknya (Kami telah membuat prosesnya sesederhana mungkin).

    9adf3cab7ac5be01d856c9d1020aa0da-1263064820-505-4.jpg
    Selamat, Anda telah berhasil memasang Firefox!
  5. Klik dua kali pada ikon Firefox kapanpun Anda ingin online.

    Installing Firefox - Win4

Sumber : https://support.mozilla.org/id/kb/install-firefox-windows 

Cerpen dengan tema Kewirausahaan



BUAH HASIL ULETKU
Oleh Heny Lestari


Di sebuah desa Maju Makmur tinggalah sebuah keluarga yang sederhana. Kehidupan keluarga itu tak semakmur nama desanya. Keluarga itu terdiri dari bapak, ibu dan dua orang anak. Bapaknya bernama Pak Mardi, Ibunya bernama bu Milah , anak pertamanya bernama Adi dan anak yang kedua bernama Eni. Pak Mardi bekerja sebagai buruh tani di sawah,Bu Milah bekerja sebagai pedagang kue keliling, sedangkan Adi dan Eni adalah seorang siswa yang masih sekolah. Adi duduk di kelas 12 SMK. Sedangkan adiknya Eni, duduk di kelas 7 SMP. Kehidupan keluarga Adi sangat sederhana. Mereka hidup dengan apa adanya.Jika memang ayah dan ibunya Adi hanya mempunyai uang sedikit, makan nasi dengan garam pun mereka jalani. Penghasilan ayahnya pun tidak menentu, tergantung hasil panen yang diperolehnya. Penghasilan ibunya pun demikian, penghasilannya tergantung seberapa banyak kue yang terjual dari daganganya. Padahal mereka harus membiayai sekolah kedua anaknya. Terkadang  Adi dan Eni merasa kasihan dengan ayah dan ibunya. Jika mereka ada waktu lenggang di sela-sela kesibukan sekolahnya, mereka selalu membantu pekerjaan kedua orang tuanya.
            Dua bulan sebelum ujian nasional, Adi merasa gelisah. Ia gelisah dikarenakan ia belum membayar uang SPP selama 6 bulan terakhir. Padahal dua bulan lagi ia akan melaksanakan Ujian Nasional. Syarat untuk mengikuti ujian nasional salah satunya yaitu harus lunas semua administrasi pembayaran. Di sela-sela makan malam ia menanyakannya kepada kedua orang tuannya yang sedang berkumpul bersama di ruang makan.
“Bapak,simbok (panggilan akrabnya)  maaf saya mengganggu sebentar” ia berkata dengan sedikit lirih. Ibunya pun menjawab “Iya le, ada apa??”
“Begini mbok, dua bulan lagi saya akan mengikuti ujian nasional”
“Alhamdullilah le, kalu begitu kamu akan segera lulus dari sekolah “ jawab ayahnya.
“Iya pak, mbok. Ta..ta..tapi pak, mbok..........” jawabnya terbata-bata
“Tetapi kenapa le???” jawab ayah dan ibunya serentak.
“Tetapi syarat mengikuti ujian nasional itu harus melunasi semua administrasi pembayaran” jawabnya pelan.
“Owalah begitu ya le, ya besok bapak sama simbok akan berusaha agar bisa mendapatkan uang untuk membayarnya” jawab ayahnya.
“Iya pak. Jika ada waktu luang saya juga akan membantu pekerjaan bapak atau simbok agar segera mendapatkan uang yang banyak” jawab Adi.
“Iya pak, mbok. Eni juga akan membantu bapak sama simbok agar mas Adi besok bisa ikut ujian nasional dan aku bisa mencicil uang SPP yang tertunda” sahut Eni.
“Alhamdulillah, semoga usaha kita tidak sia-sia. “ jawab ayahnya.
“Amin...” jawab Adi dan Eni serentak sambil memanjatkan doa.
            Setiap hari libur Adi ataupun Eni membantu ibunya berjualan kue. Kini giliran Adi membantu ibunya berjualan dan adiknya, Eni membantu menyelesaikan pekerjaan di rumahnya. Adi dan ibunya berjualan berpisah agar bisa mendapat pelanggan yang banyak.
“Kue,kue...! kue dijamin sehat,bergizi dan pokoknya uenaakkk tenan!!!!!” teriak Adi saking semangatnya.
“Pak, bu, adek beli kuenya???” ia menawarkan dagangan kuenya.
“Saya beli kuenya 20.000 ribu dek, dibungkus ya” pembeli yang membeli dagangannya.
“Iya bu, ini kuenya” jawab Adi sambil memberikan kuenya.
            Setelah berpuluh meter ia berdagang, akhirnya dagangannya hampir habis. Ia berusaha untuk menjajakan jualannya agar habis. Pucuk dicinta anjing pun tiba!!!! Bukanya dagangannya habis Adi pun celaka. Saat Ia mau menjajakan dagangannya di sebuah rumah, ia malah disambut dengan anjing yang menggonggong. Ia kaget dan langsung lari. Ia berlari sekencang-kencangnya agar tidak digigit anjing tersebut. Ia tak memperhatikan kondisi jalan dan ditengah-tengah jalan ia menginjak kulit pisang yang tak disadarinya. Ia pun terpeleset ke selokan kecil di pinggir jalan. “duh simbok, kok malah njegur selokan to!” sahutnya kesal.
“Untung aja dagangannya cuma tinggal sedikit jadi tidak banyak ruginya, tapi.... tetep aja rugi wong malah jatuh e dagangan yang terakhir, itu kan tetep uang. Ehh ditambah jatuh ke selokan lagi” ia bergumam sendiri sambil bangun dari jatuhnya dan anjinngnya pun sudah pergi.
            Ia pulang dengan wajah kusam. Sesampai di rumah, ayah, ibu dan adiknya menertawakan Adi yang kotor seperti tikus got. Adi pun menjelaskan semua yang terjadi kepada semuanya. Ibunya pun memakluminya. “Tidak apa-apa le, udah lumayan dagangannya udah terjual hampir setengah lebih. Mungkin belum rejeki kita” nasehat ibu kepada Adi.
            Disamping memikirkan biaya pembayaran yang harus segera dilunasi, Adi tak lupa untuk belajar dengan giat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Setiap saat ia menyempatkan diri untuk belajar. Tak lupa juga ia selalu memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Ia berdoa agar dilancarkan dalam menghadapi ujian nanti dan dilancarkan rezekinya dan orang tuanya agar dapat segera melunasi administrasi pembayaran yang kurang. Setiap malam ia sempatkan untuk menunaikan sholat tahajud. Ia juga memohon doa restu kepada ayah,ibu dan adiknya agar dilancarkan ujiannya.
            Sekian lama mengumpulkan uang, akhirnya Adi dapat melunasi administrasi pembayaran yang kurang. Hari ini dan tiga hari ke depan, ia akhirnya mengikuti ujian nasional yang ia tunggu-tunggu. Ia meyakinkan dalam dirinya agar percaya diri dan tidak gugup dalam mengerjakan soal ujian. Ia yakin bahwa ia sudah siap mental dari persiapan yang sudah ia lakukan. “Teng... Teng...!!! “ bel berbunyi menandakan pertempuran soal dimulai. “Bissmillahirohmanirohim....” bacaan yang selalu ia ucap dan surat Al-Fatihah setiap ia akan mengerjakan soal. Empat hari berlalu, Adi sudah selesai mengikuti ujian nasional. Ia merasa lega dapat melaksanakan ujian nasional dengan sebaik-baiknya. Ia berharap agar ia mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia harus menunggu sekitar satu bulan hasil ujian yang ia lalui.
            Sambil menunggu hasil ujian nasional, ia mulai memikirkan masa depannya. Mau kemana ia melangkah, apakah akan bekerja ataukah akan meneruskan ke perguruan tinggi? Setelah ia pikir-pikir, ia berinisiatif untuk mengembangkan usaha ibunya dan jika memang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi kondisi ekonomi pun tidak mendukung. Ia menyampaikan keinginannya kepada ibunya disaat mereka sedang duduk santai berdua karena ayah dan adiknya sedang ada kesibukan.
“Simbok, aku punya suatu keinginan”.
“Emm.. bagus itu. Apa keinginan kamu le??”
“Setelah saya lulus sekolah nanti, saya kepengin mengembangkan usaha simbok berjualan kue,gimana mbok??”
“Wah bagus sekali keinginanmu itu. Simbok mendukung apa yang kamu inginkan”
“Terima kasih simbok, saya juga merasa kasihan dengan simbok yang harus berjualan keliling setiap hari dan aku juga bisa membantu bapak dan simbok untuk membiayai sekolah Eni” jelasnya panjang lebar.
“ Iya le, besok simbok bantu untuk modal mewujudkan usahamu le” jawab ibunya.
            Hari yang ia tunggu pun datang. Hari ini Adi akan mengetahui hasil dari ujian yang dihadapinya kemaren. Ia merasa gugup sembari ia memajatkan doa, ketika membuka amplop pengumuman itu. Pelan-pelan amplop itu dibukanya. Amplop itu berisikan kertas bertuliskan kata “LULUS”. Ia merasa sangat bahagia dan bersyukur dengan semua itu. Ia pun mendapat nilai yang memuaskan dan menjadi juara pertama di sekolahnya. Ayah dan ibunya pun merasa bangga dengan pencapaian anaknya itu. Adiknya pun demikian.
            Setelah beberapa hari dari hari kelulusan itu, ia bertekad dan memulai usaha yang ia inginkan. Ia diberi modal yang lumayan dari ibunya. Modalnya itu, ia gunakan untuk menyewa lapak di pasar dan untuk membeli bahan-bahan membuat kue. Pertama kalinya ia berjualan, dagangannya tidak selaris yang ia beyangkan. Ia pun berkeluh kesah kepada ibunya.
 “Kenapa ya mbok daganganku tidak selaris yang aku bayangkan? Apakah itu yang dahulu simbok rasakan saat pertama kali berjualan?” tanyanya Adi kepada simboknya.
“ Memang le, berjualan itu tak semudah yang kita bayangkan. Perlu kesabaran agar bisa sukses” jawab ibunya.
 “Owalah, cen abot to golek duit ki” gumamnya.
“ Kowe kudu biso sabar lan telaten yen pengen sukses le!” nasehat ibunya kepada Adi.
 “Enggih simbok” jawab Adi sambil tersenyum lebar dengan penuh keyakinan.
Setiap hari Adi pun dengan giat menjajakan jualanya. Ia pun tak kenal lelah dan putus asa. iya berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia harus sukses. Setelah satu tahun ia berjualan, akhiranya ia pun mendapatkan hasil yang ia inginkan. Usaha dagangya di pasar sukses dan diminati banyak pelanggan di pasar. “Alhamdulillah Ya Allah atas nikmat yang kau berikan kepadaku” ungkapan syukur Adi kepada Sang Kuasa. Sekarang ia pun bisa membantu meringankan beban kedua orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
            Namun pada saat ia mencapai puncak kesuksesan dalam usahanya, ia mendapat musibah. Lapak yang biasa ia gunakan untuk berjualan di pasar dimakan hangus oleh si jago merah. Entah kenapa semua itu bisa terjadi. Menurut orang yang mengetahui kejadian itu mengatakan bahwa “lapak milik Adi sengaja dibakar oleh orang. Kemungkinan orang itu merasa iri atas kesuksesan Adi dan merasa tersaingi”. Kejadian itu membuat Adi harus membayar ganti rugi kepada pemillik lapak tersebut.
 “ Duh Gusti, kenapa engkau berikan cobaan dibalik rasa bahagiaku? Apakah aku memang tak pantas untuk sukses? Bahkan bahagia?” ungkapan rasa sedih dan kecewanya dalam hati dan meneteslah air mata Adi.
 Adi merasa gagal untuk dapat bisa membahagiakan bapak ibu dan adiknya. “udah mas, jangan terus merenungi musibah ini. Mas adi harus bangkit lagi. Masih ada banyak cara utuk mewujudkan mimpinya mas. Eni disini selalu mendoakan agar mas selalu diberi kebahagiaan dalam hidupnya mas.” tutur Eni untuk memberi semangat kepada kakanya. “iya dek, mas juga gak bakalan terus meratapi musibah ini. Mas harus bisa membangun usaha lagi untuk bisa membahagiakan bapak, simbok dan kamu adikku tersayang. Doakan mas sukses dalam segala usaha mas” jawab Adi untuk meyakinkan adikknya.
            Seingatnya, Adi masih punya tabungan yang bisa ia gunakan untuk mendirikan usahanya kembali. Dari tabunganya itu, ia dapat menyewa toko yang lumayan besar. Langkah demi langkah ia tekuni. Usahanya pun berjalan mulus. Ia pun mempunyai ide untuk membuka cabang usaha kuenya di berbagai daerah bahkan sampai kota-kota. Setelah beberapa tahun usaha berjualan kue Adi pun sukses. Tak lupa ia kapada keluarganya. Ia  berhasil membahagiakan kedua orang tuanya. Bahkan sampai bisa memberangkatkan orang tuanya ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Ia juga bisa menyekolahkan adiknya ke perguruan tinggi. Ia sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya. Disamping itu, ia tak lupa untuk berbagi terhadap sesama. Ia selalu membantu orang-orang yang membutuhkan semampu dia.

Sunday, March 22, 2015