BUAH HASIL ULETKU
Oleh Heny Lestari
Di sebuah desa Maju Makmur
tinggalah sebuah keluarga yang sederhana. Kehidupan keluarga itu tak semakmur
nama desanya. Keluarga itu terdiri dari bapak, ibu dan dua orang anak. Bapaknya
bernama Pak Mardi, Ibunya bernama bu Milah , anak pertamanya bernama Adi dan
anak yang kedua bernama Eni. Pak Mardi bekerja sebagai buruh tani di sawah,Bu Milah
bekerja sebagai pedagang kue keliling, sedangkan Adi dan Eni adalah seorang
siswa yang masih sekolah. Adi duduk di kelas 12 SMK. Sedangkan adiknya Eni,
duduk di kelas 7 SMP. Kehidupan keluarga Adi sangat sederhana. Mereka hidup
dengan apa adanya.Jika memang ayah dan ibunya Adi hanya mempunyai uang sedikit,
makan nasi dengan garam pun mereka jalani. Penghasilan ayahnya pun tidak menentu,
tergantung hasil panen yang diperolehnya. Penghasilan ibunya pun demikian,
penghasilannya tergantung seberapa banyak kue yang terjual dari daganganya. Padahal
mereka harus membiayai sekolah kedua anaknya. Terkadang Adi dan Eni merasa kasihan dengan ayah dan
ibunya. Jika mereka ada waktu lenggang di sela-sela kesibukan sekolahnya,
mereka selalu membantu pekerjaan kedua orang tuanya.
Dua bulan
sebelum ujian nasional, Adi merasa gelisah. Ia gelisah dikarenakan ia belum
membayar uang SPP selama 6 bulan terakhir. Padahal dua bulan lagi ia akan
melaksanakan Ujian Nasional. Syarat untuk mengikuti ujian nasional salah
satunya yaitu harus lunas semua administrasi pembayaran. Di sela-sela makan
malam ia menanyakannya kepada kedua orang tuannya yang sedang berkumpul bersama
di ruang makan.
“Bapak,simbok (panggilan akrabnya) maaf saya mengganggu sebentar” ia berkata
dengan sedikit lirih. Ibunya pun menjawab “Iya le, ada apa??”
“Begini mbok, dua bulan lagi saya akan mengikuti ujian
nasional”
“Alhamdullilah le, kalu begitu kamu akan segera lulus dari
sekolah “ jawab ayahnya.
“Iya pak, mbok. Ta..ta..tapi pak, mbok..........” jawabnya
terbata-bata
“Tetapi kenapa le???” jawab ayah dan ibunya serentak.
“Tetapi syarat mengikuti ujian nasional itu harus melunasi
semua administrasi pembayaran” jawabnya pelan.
“Owalah begitu ya le, ya besok bapak sama simbok akan
berusaha agar bisa mendapatkan uang untuk membayarnya” jawab ayahnya.
“Iya pak. Jika ada waktu luang saya juga akan membantu
pekerjaan bapak atau simbok agar segera mendapatkan uang yang banyak” jawab Adi.
“Iya pak, mbok. Eni juga akan membantu bapak sama simbok
agar mas Adi besok bisa ikut ujian nasional dan aku bisa mencicil uang SPP yang
tertunda” sahut Eni.
“Alhamdulillah, semoga usaha kita tidak sia-sia. “ jawab
ayahnya.
“Amin...” jawab Adi dan Eni serentak sambil memanjatkan doa.
Setiap hari
libur Adi ataupun Eni membantu ibunya berjualan kue. Kini giliran Adi membantu
ibunya berjualan dan adiknya, Eni membantu menyelesaikan pekerjaan di rumahnya.
Adi dan ibunya berjualan berpisah agar bisa mendapat pelanggan yang banyak.
“Kue,kue...! kue dijamin sehat,bergizi dan pokoknya uenaakkk
tenan!!!!!” teriak Adi saking semangatnya.
“Pak, bu, adek beli kuenya???” ia menawarkan dagangan
kuenya.
“Saya beli kuenya 20.000 ribu dek, dibungkus ya” pembeli
yang membeli dagangannya.
“Iya bu, ini kuenya” jawab Adi sambil memberikan kuenya.
Setelah
berpuluh meter ia berdagang, akhirnya dagangannya hampir habis. Ia berusaha
untuk menjajakan jualannya agar habis. Pucuk dicinta anjing pun tiba!!!!
Bukanya dagangannya habis Adi pun celaka. Saat Ia mau menjajakan dagangannya di
sebuah rumah, ia malah disambut dengan anjing yang menggonggong. Ia kaget dan langsung
lari. Ia berlari sekencang-kencangnya agar tidak digigit anjing tersebut. Ia
tak memperhatikan kondisi jalan dan ditengah-tengah jalan ia menginjak kulit
pisang yang tak disadarinya. Ia pun terpeleset ke selokan kecil di pinggir
jalan. “duh simbok, kok malah njegur selokan to!” sahutnya kesal.
“Untung aja dagangannya cuma tinggal sedikit jadi tidak
banyak ruginya, tapi.... tetep aja rugi wong malah jatuh e dagangan yang
terakhir, itu kan tetep uang. Ehh ditambah jatuh ke selokan lagi” ia bergumam
sendiri sambil bangun dari jatuhnya dan anjinngnya pun sudah pergi.
Ia pulang dengan
wajah kusam. Sesampai di rumah, ayah, ibu dan adiknya menertawakan Adi yang kotor
seperti tikus got. Adi pun menjelaskan semua yang terjadi kepada semuanya.
Ibunya pun memakluminya. “Tidak apa-apa le, udah lumayan dagangannya udah
terjual hampir setengah lebih. Mungkin belum rejeki kita” nasehat ibu kepada
Adi.
Disamping
memikirkan biaya pembayaran yang harus segera dilunasi, Adi tak lupa untuk
belajar dengan giat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Setiap
saat ia menyempatkan diri untuk belajar. Tak lupa juga ia selalu memanjatkan
doa kepada Yang Maha Kuasa. Ia berdoa agar dilancarkan dalam menghadapi ujian
nanti dan dilancarkan rezekinya dan orang tuanya agar dapat segera melunasi
administrasi pembayaran yang kurang. Setiap malam ia sempatkan untuk menunaikan
sholat tahajud. Ia juga memohon doa restu kepada ayah,ibu dan adiknya agar
dilancarkan ujiannya.
Sekian lama
mengumpulkan uang, akhirnya Adi dapat melunasi administrasi pembayaran yang
kurang. Hari ini dan tiga hari ke depan, ia akhirnya mengikuti ujian nasional
yang ia tunggu-tunggu. Ia meyakinkan dalam dirinya agar percaya diri dan tidak
gugup dalam mengerjakan soal ujian. Ia yakin bahwa ia sudah siap mental dari
persiapan yang sudah ia lakukan. “Teng... Teng...!!! “ bel berbunyi menandakan pertempuran
soal dimulai. “Bissmillahirohmanirohim....” bacaan yang selalu ia ucap dan
surat Al-Fatihah setiap ia akan mengerjakan soal. Empat hari berlalu, Adi sudah
selesai mengikuti ujian nasional. Ia merasa lega dapat melaksanakan ujian
nasional dengan sebaik-baiknya. Ia berharap agar ia mendapatkan hasil yang
memuaskan. Ia harus menunggu sekitar satu bulan hasil ujian yang ia lalui.
Sambil
menunggu hasil ujian nasional, ia mulai memikirkan masa depannya. Mau kemana ia
melangkah, apakah akan bekerja ataukah akan meneruskan ke perguruan tinggi?
Setelah ia pikir-pikir, ia berinisiatif untuk mengembangkan usaha ibunya dan
jika memang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi kondisi ekonomi pun tidak
mendukung. Ia menyampaikan keinginannya kepada ibunya disaat mereka sedang
duduk santai berdua karena ayah dan adiknya sedang ada kesibukan.
“Simbok, aku punya suatu keinginan”.
“Emm.. bagus itu. Apa keinginan kamu le??”
“Setelah saya lulus sekolah nanti, saya kepengin
mengembangkan usaha simbok berjualan kue,gimana mbok??”
“Wah bagus sekali keinginanmu itu. Simbok mendukung apa yang
kamu inginkan”
“Terima kasih simbok, saya juga merasa kasihan dengan simbok
yang harus berjualan keliling setiap hari dan aku juga bisa membantu bapak dan
simbok untuk membiayai sekolah Eni” jelasnya panjang lebar.
“ Iya le, besok simbok bantu untuk modal mewujudkan usahamu
le” jawab ibunya.
Hari yang
ia tunggu pun datang. Hari ini Adi akan mengetahui hasil dari ujian yang
dihadapinya kemaren. Ia merasa gugup sembari ia memajatkan doa, ketika membuka
amplop pengumuman itu. Pelan-pelan amplop itu dibukanya. Amplop itu berisikan
kertas bertuliskan kata “LULUS”. Ia merasa sangat bahagia dan bersyukur dengan
semua itu. Ia pun mendapat nilai yang memuaskan dan menjadi juara pertama di
sekolahnya. Ayah dan ibunya pun merasa bangga dengan pencapaian anaknya itu.
Adiknya pun demikian.
Setelah
beberapa hari dari hari kelulusan itu, ia bertekad dan memulai usaha yang ia
inginkan. Ia diberi modal yang lumayan dari ibunya. Modalnya itu, ia gunakan
untuk menyewa lapak di pasar dan untuk membeli bahan-bahan membuat kue. Pertama
kalinya ia berjualan, dagangannya tidak selaris yang ia beyangkan. Ia pun
berkeluh kesah kepada ibunya.
“Kenapa ya mbok
daganganku tidak selaris yang aku bayangkan? Apakah itu yang dahulu simbok
rasakan saat pertama kali berjualan?” tanyanya Adi kepada simboknya.
“ Memang le, berjualan itu tak semudah yang kita bayangkan.
Perlu kesabaran agar bisa sukses” jawab ibunya.
“Owalah, cen abot to golek
duit ki” gumamnya.
“ Kowe kudu biso sabar lan telaten yen pengen sukses le!”
nasehat ibunya kepada Adi.
“Enggih simbok” jawab
Adi sambil tersenyum lebar dengan penuh keyakinan.
Setiap hari Adi pun dengan giat
menjajakan jualanya. Ia pun tak kenal lelah dan putus asa. iya berjanji pada
dirinya sendiri bahwa ia harus sukses. Setelah satu tahun ia berjualan,
akhiranya ia pun mendapatkan hasil yang ia inginkan. Usaha dagangya di pasar
sukses dan diminati banyak pelanggan di pasar. “Alhamdulillah Ya Allah atas
nikmat yang kau berikan kepadaku” ungkapan syukur Adi kepada Sang Kuasa.
Sekarang ia pun bisa membantu meringankan beban kedua orang tuanya dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun pada
saat ia mencapai puncak kesuksesan dalam usahanya, ia mendapat musibah. Lapak
yang biasa ia gunakan untuk berjualan di pasar dimakan hangus oleh si jago
merah. Entah kenapa semua itu bisa terjadi. Menurut orang yang mengetahui
kejadian itu mengatakan bahwa “lapak milik Adi sengaja dibakar oleh orang.
Kemungkinan orang itu merasa iri atas kesuksesan Adi dan merasa tersaingi”.
Kejadian itu membuat Adi harus membayar ganti rugi kepada pemillik lapak
tersebut.
“ Duh Gusti, kenapa
engkau berikan cobaan dibalik rasa bahagiaku? Apakah aku memang tak pantas
untuk sukses? Bahkan bahagia?” ungkapan rasa sedih dan kecewanya dalam hati dan
meneteslah air mata Adi.
Adi merasa gagal untuk dapat bisa
membahagiakan bapak ibu dan adiknya. “udah mas, jangan terus merenungi musibah
ini. Mas adi harus bangkit lagi. Masih ada banyak cara utuk mewujudkan mimpinya
mas. Eni disini selalu mendoakan agar mas selalu diberi kebahagiaan dalam hidupnya
mas.” tutur Eni untuk memberi semangat kepada kakanya. “iya dek, mas juga gak
bakalan terus meratapi musibah ini. Mas harus bisa membangun usaha lagi untuk
bisa membahagiakan bapak, simbok dan kamu adikku tersayang. Doakan mas sukses
dalam segala usaha mas” jawab Adi untuk meyakinkan adikknya.
Seingatnya,
Adi masih punya tabungan yang bisa ia gunakan untuk mendirikan usahanya
kembali. Dari tabunganya itu, ia dapat menyewa toko yang lumayan besar. Langkah
demi langkah ia tekuni. Usahanya pun berjalan mulus. Ia pun mempunyai ide untuk
membuka cabang usaha kuenya di berbagai daerah bahkan sampai kota-kota. Setelah
beberapa tahun usaha berjualan kue Adi pun sukses. Tak lupa ia kapada
keluarganya. Ia berhasil membahagiakan
kedua orang tuanya. Bahkan sampai bisa memberangkatkan orang tuanya ke tanah
suci untuk melaksanakan ibadah haji. Ia juga bisa menyekolahkan adiknya ke
perguruan tinggi. Ia sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan
kepadanya. Disamping itu, ia tak lupa untuk berbagi terhadap sesama. Ia selalu
membantu orang-orang yang membutuhkan semampu dia.
No comments:
Post a Comment